Selasa, 30 Juli 2013



SEKELUMIT PEMIKIRAN DALAM BUKU
 “POLITIK BERAS DAN BERAS POLITIK”

Siang itu, udara kota Semarang sangat panas. Aku memilih untuk berlindung sejenak di depan perpustakaan kampus. Secara tidak sengaja, mata saya memandang ke arah sebuah box kaca di depan perpustakaan yang biasa dipakai untuk memajang buku-buku terbitan kampus. Terlihat satu buku dengan sampul biru yang didesign dengan cukup rapih dan menarik. Sang penulis memberikan judul yang menarik atas karyanya tersebut: “Politik Beras dan Beras Politik”. Saya cukup penasaran dengan judul dan terutama isi dari buku tersebut. Untuk memuaskan rasa keingintahuan saya, maka saya memberanikan diri untuk mencabut selembar rupiah dari dompet saya untuk bisa mendapatkan buku tersebut.
Buku ini merupakan buntelan opini terpilih dari salah seorang dosen di UNDIP; Prof. Dr. Purbayu Budi Santosa, M.S. Dari data diri beliau, dapat dilihat bahwa penulis mempunyai keprihatinan yang tinggi terhadap wong cilik. Dari judul buku yang ditulisnya, sudah dapat kita lihat alur pembelaan yang dilakukan dalam tulisan ini adalah kaum petani. Indikatornya jelas, bahwa beras hanya diperoleh dari hasil keringat para petani yang hingga saat ini masih merayap dan tergilas oleh perkembangan industri yang salah sasaran. Buntelan opini yang dimuat di beberapa media lokal ini kiranya dapat memberikan kita beberapa pendasaran mengapa kita mau berdarah-darah membela kaum petani di saat pembangunan yang dengan kukuhnya yang tajam mencengkram kaum kecil dan yang lemah.
Lewat tulisan yang sangat sederhana ini (maklum ide muncul di saat mata sudah menuntut untuk berhenti berkedip sejenak) saya mencoba mensharingkan beberapa pokok permasalahan dan solusi yang bisa kita perjuangkan bagi para petani yang tidak lain adalah orang tua kita sendiri. Buku ini juga membantu kita sedikitnya mengerti mengapa ada begitu banyak paradox yang terjadi di Republik Sialan ini (meminjam kata Max Regus dalam bukunya “Republik Sialan”).
Dalam bagian pertama buku ini, penulis langsung secara terang-terangan memberikan judul tulisannya: “Pertanian Mengatasi Kemiskinan”  Spontan muncul pertanyaan dalam pikiran saya, apakah benar bahwa pertanian dapat mengatasi kemiskinan? Jika benar, mengapa Indonesia yang sebagian besar penduduknya adalah petani justru menjadi golongan yang termiskin? Stigma yang ada dalam otak kita ketika kita mendengar kata petani, adalah kemiskinan. Petani menjadi satu senyawa dengan kemiskinan. Ketika mendengar atau membaca tentang petani, maka destinasi pemikiran kita akan berlabuh pada satu kata yaitu miskin. Petani kemudian menjadi indentik dengan kemiskinan. Lalu mengapa muncul keyakinan bahwa pertanian dapat mengatasi kemiskinan? Jika keyakinan ini benar, maka ada sesuatu yang tidak beres dengan system pertanian dan para petani kita.
Secara garis besar, perkembangan pertanian kita sejak zaman orde lama hingga pascareformasi ini, tidak mengalami perkembangan yang signifikan. Program pemerintah yang pro pertanian sepertinya hanya slogan paruh waktu ketika ada moment tertentu. Tapi pada kenyataannya, bahwa perhatian penuh terhadap sector pertanian masih belum memuaskan. Sudah 60’an tahun kita merdeka tetapi nasib para petani tidak berubah. Walaupun demikian, sejarah telah menuliskan dengan tinta emas bahwa Indonesia pernah berhasil menjalankan program swasembada pangan yang kemudian menghantar presiden Soeharto menerima penghargaan dari organisasi pangan dan pertanian dunia (FAO) di Roma, Italia. Indonesia juga menjadi satu Negara contoh bagi Negara-negara berkembang lainnya dalam hal mengatasi kekurangan pangan dan bahaya kelaparan.
Jika memang demikian, mengapa di saat sekarang ini, kita menjadi Negara pengimpor beras? Apakah kita tidak mempunyai lahan untuk menanam padi? Saya pikir kemungkinan ini sangat tipis. Masih banyak lahan kosong yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan banyak orang pada semua lapisan masyarakat. Ada kelemahan mendasar yang kiranya dapat kita refleksikan dan kita pikirkan untuk mencari solusi yang tepat dan cepat. Kelemahan yang dimaksud adalah bahwa telah terjadi perubahan struktur perekonomian. Sumbangan terbesar terhadap pendapatan nasional berasal dari sector atau dari bidang industry manufaktur. Dan lebih disayangkan lagi adalah banyak tenaga kerja masih terkungkung dalam sector pertanian. Hal ini membuktikan bahwa bias pembangunan telah mengarah kepada sector industry dari pada pertanian. Ditambah lagi dengan industry berteknologi tinggi yang lebih banyak menyerap bahan baku impor. Ujung dari realitas ini adalah industry pada modal dengan sedikit menyerap tenaga kerja.
Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah kita. Yang pertama: masalah urusan pangan dan kebutuhan pokok adalah pilihan pertama yang harus disadari dan dijalankan oleh pemerintah. Pelepasan kepada mekanisme pasar adalah satu jebakan dari lebaga resmi dunia, yang bisa juga menyesatkan. Yang kedua, pembangunan industry sudah saatnya menggunakan sumber daya local, salah satunya adalah sector pertanian. Agroindustri pedesaan yang berbasis kerakyatan menjadi pilihan yang tepat dalam mengatasi kemiskinan dan pengangguran. Ketiga, ketimpangan dalam penguasaan dan pemilikan lahan memerlukan satu kebijakan penataan ulang lahan yang baik di mana ada penetapan lahan abadi untuk pertanian. Keempat, struktur pasar bidang pertanian yang bukan persaingan sempurna perlu diterapkan hukum yang ketat untuk standar harga komoditas tertentu agar para petani tidak dirugikan. Kelima, membangun sarana dan prasarana yang memadai yang kiranya dapat membantu pada petani kita untuk mendistribusikan hasil panennya dalam jumlah yang lebih besar.
Beberapa pandangan dan anjuran di atas dapat menjadi bahan pertimbangan bagi kita untuk bangkit menjadi agen perubahan yang dapat dipercaya. Solusi yang ditawarkan di atas bukannya tidak mungkin untuk kita lakukan. Rumusannya memang agak mengambang tetapi intinya jelas bahwa perjuangan untuk mengentaskan kemiskinan berawal dari kesadaran akan keadaan diri kita sendiri. Ketika kita sadar bahwa kita miskin, kita tentu berbuat sesuatu untuk keluar dari keterpurukan kita. Kemauan yang tinggi untuk keluar dari garis kemiskinan ini menuntut kita untuk lebih giat lagi berjuang. Pihak berikut yang harus mendukung adalah pemerintah. Dukungan sarana dan prasaran serta subsidi sementara dari pemerintah masih sangat dibutuhkan di sini agar bisa menghasilkan produk unggulan.
Masih banyak hal yang menarik yang bisa kita pelajari dan modifikasi lagi dari pemikiran sederhana dalam buku ini. Kalau masih ada waktu kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan…

Senin, 22 Juli 2013

    The Last Samurai dalam Perspektif Prilaku Keorganisasian...
The Last Samurai adalah satu film dengan peran gabungan atara orang Jepang dengan pemeran dari dunia Barat. Film dengan kolaborasi peran ini memang sangat menarik. Ketika Jepang sedang gencar membangun dan terbuka terhadap dunia luar (perkembangan dan kemajuan yang ditawarkan dari Barat), terjadi semacam pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok yang masih memegang teguh ajaran dan tradisi kuno Jepang. Film ini menggabungkan dua kebudayaan yang berbeda antara dunia Barat dengan dunia Timur yang diwakili oleh Jepang. Kerja sama yang dijalin antara pemerintah Jepang dengan dunia Barat membawa perubahan dan perkembangan yang pesat dalam bidang transportasi dan juga peralatan perang. Kerja sama ini membawa perubahan dalam pola pikir yang membawa orang Jepang terpecah dan terlibat dalam perang antara sesama orang Jepang.
Situasi perpecahan ini memang membawa satu kesadaran baru dalam diri orang Jepang yang terwakili oleh sikap Kaisar yang membatalkan semua ikatan kerja sama dengan dunia Barat. Kaisar akhirnya sadar bahwa apa yang dilakukan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat malah membawa kerugian bagi masyarakat. Konsep budaya yang berbeda antara dunia Barat dan dunia Timur berpengaruh juga terhadap setiap kebijakan yang dilakukan dalam satu negara. Ketika negara tidak lagi memperhitungkan keberbedaan budaya, maka akan muncul satu kesenjangan antara tujuan yang mau dicapai dengan kenyataan yang terjadi. Hal ini terlihat jelas dengan adanya perang saudara yang terjadi antara pemerintah dan kelompok yang disebut sebagai pemberontak. Kelompok pemberontak ini sebenarnya adalah kelompok yang masih tetap mempertahankan keaslian yang dimiliki oleh orang Jepang dan diturunkan dari nenek moyang mereka. Kebiasaan seperti inilah yang melekat dalam diri kelompok yang disebut sebagai kelompok pemberontak. Tetapi perjuangan mereka akhirnya membuahkan hasil walaupun harus menuntut korban. Banyak orang yang meninggal dalam perang yang tidak seimbang tersebut. Kesetiaan dan ketaatan terhadap pesan dan tradisi nenek moyang, membuat mereka secara ksatria dan berani mati di medan perang demi mempertahankan keyakinan mereka. Film ini mau menggambarkan keberagamam kultur yang dimiliki oleh masing-masing negara dengan ciri khas masing-masing yang jika dihadapkan dengan kultur atau budaya dari bangsa lain maka akan ada benturan di sana. Orang Jepang misalnya, akan merasa malu jika ia mengalami kekalahan dalam perang. Mati dalam perang dianggap sebagai suatu kebanggaan, dan kekalahan akan membawa rasa malu yang berujung pada membunuh diri sendiri. Dalam Film ini, terlihat perbedaan pandangan mengenai kekalahan itu. Ketika pemimpin pemrontakan itu sudah mengalami kekalahan, yang dia lakukan adalah membunuh diri sendiri. Berbeda dengan kolonel yang berasal dari Barat yang tetapi optimis dan tidak merasa malu walaupun dia kalah dalam perang. Perbedaan lain muncul dalam cara menghargai seseorang atau sesama. Budaya Timur sangat menghargai sesamanya dengan membungkuk ketika berpapasan atau hendak menyapa sesama. Contoh lain seperti melepaskan sepatu ketika masuk dalam rumah. Semua kebiasaan seperti ini berbeda antara satu negara dengan negara yang lainnya.
Menurut Hofstede, sebuah bangsa memiliki budaya. Hofstede sendiri telah mengklaim telah sukses menyingkap rahasia kebudayaan bangsa tersebut dalam lima dimensi yang dapat digambarkan secara hirarki. Pada tahun 1994, ia juga mengklaim skala penerimaan dari notasinya mengenai kebudayaan bangsa yang disebutnya sebagai perubahan paradigma yang nyata telah terjadi. Hofstede dalam penelitiannya mengelompokkan masyarakat yang satu dengan masyarakat lain yang kemudian dibedakan budayanya dari berbagai aspek termasuk budaya toleransi kekuasaan atau (power distance). Budaya akan dapat mempengaruhi persepsi karir seseorang meskipun pada tingkat analisis individual. Dari tingkat analisis individual, budaya pada umumnya akan mempengaruhi anggota organisasi termasuk mempengaruhi gaya kepemimpinan atau leadership style.
Ada lima dimensi dari nilai kultur yang ada dalam satu masyarakat menurut Hofstede yaitu:
  • Jarak kekuasaan: tingkatan di mana individu dalam satu masyarakat atau negara setuju bahwa kekuasaan dalam institusi dan organisasi didistribusikan secara tidak sama. Peringkat yang tinggi atas jarak kekuasaan berarti bahwa ketidaksamaan kekuatan dan kekayaan yang besar ada dan ditoleransi dalam kultur tersebut.
  • Individualisme versus kolektivisme: individualisme adalah tingkatan di mana individu lebih suka bertindak sebagai individu dari pada sebagai anggota dalam satu kelompok. Sedangkan kolektivisme menekankan kerangka sosial yang kuat di mana individu mengharap individu lain dalam kelompok mereka untuk menjaga dan melindungi mereka.
  • Maskulinitas versus femininitas: tingkatan di mana kultur lebih menyukai peran maskulini tradisional seperti pencapaian, kekuatan, dan pengendalian versus kultur yang memandang pria dan wanita memiliki kedudukan yang sejajar.
  • Penghindaran ketidakpastian: tingkat dimana individu dalam satu negara lebih memilih situasi yang terstruktur dibandingkan situasi tidak terstruktur.
  • Orientasi jangka panjang versus orientasi jangka pendek: berfokus pada tingkat ketaatan jangka panjang masyarakat terhadap nilai-nilai tradisional. Individu dalam kultur organisasi dengan orientasi jangka panjang melihat ke masa depan dan menghargai penghematan, ketekunan dan tradisi.
Dari kelima dimensi yang ditawarkan oleh Hofstede ini, kita bisa melihat kebenarannya dalam film The Last Samurai. Dimensi yang pertama adalah jarak kekuasaan. Jarak kekuasaan menurut Hofstede adalah tingkatan di mana individu dalam satu masyarakat atau negara setuju bahwa kekuasaan dalam institusi dan organisasi didistribusikan secara tidak sama. Jadi semacam ada tingkatan kedudukan dalam satu masyarakat. Ketika ada jarak kekuasaan yang dilegitimasi maka muncul golongan bawah dengan golongan atas, dan masyarakat menerimanya tanpa satu resistensi yang berarti. Dalam film ini sangat jelas terlihat bahwa budaya Jepang sangat menghargai seorang kaisar. Ketika menghadap kaisar, orang harus bertindak sopan, berkatutur kata yang sopan dan sikap tubuh yang sopan juga. Sebelum berbicara harus membungkukan badan dan sesusah berbicara, tindakan yang sama harus dilakukan lagi. Ketika hendak pulang, orang tidak langsung membalikan badan dan pergi tetapi mundur beberapa langkah baru bisa membalikan badan lalu pergi. Selain itu, ketaatan mereka terhadap seorang kaisar sangat mutlak.
Dari kata Samurai sendiri kita dapat melihat dan mengerti bahwa orang Jepang sangat menghargai dan sangat taat pada Kaisar. Samurai yang artinya melayani, menjadi kata kunci ketaatan mereka terhadap Kaisar. Mereka hanya turut terhadap perintah kaisar. Ketik ada larang untuk memotong pendek rambut, tidak membawa pedang masuk ke dalam ruang pertemuan, adalah larangan dari Undang-Undang yang dibentuk pemerintah. Masyarakat yang mempertahanan tradisi tidak setuju dengan larangan tersebut dan mengatakan bahwa jika kaisar melarang maka mereka akan menurutinya. Mereka hidup untuk melayani seorang kaisar, dan ini adalah satu kebanggan batin tersendiri bagi mereka. Mereka tunduk secara mutlak terhadap perintah Kaisar. Jarak kekuasaan yang didefenisikan oleh Hofstede terbukti dari film ini. Realitas seperti ini sama seperti apa yang ada dalam Hierachy Culture yang didasarkan pada teori birokrasi Weber dan nilai tradisi, konsistensi, kooperasi, dan penyesuaian. Model hirarchy lebih fokus pada isu internal dibanding isu eksternal dan nilai kestabilan dan kendali di atas fleksibilitas dan pertimbangan. Hal ini merupakan model "perintah dan kendali" yang tradisional dalam organisasi, yang bekerja baik jika tujuannya adalah efisiensi dengan syarat lingkungan organisasinya stabil dan sederhana. Atau hanya ada sedikit perubahan pelanggan, pilihan pelanggan, kompetisi, teknologi, dan lain lain.
Dimensi yang kedua adalah individualisme versus kolektivisme. Kolektivisme menekankan kerangka sosial yang kuat di mana individu mengharap individu lain dalam kelompok mereka untuk menjaga dan melindungi mereka. Aspek kolektivisme ini masih sangat kental terasa dalam masyarakat Timur. Dari film ini kita bisa menyaksikan bagaimana kehidupan masyarkat yang masih hidup berkelompok dengan rukun. Mereka hidup dengan tenang dan saling membantu satu sama lainnya. Setiap hari mereka melakukan segala sesuatu secara bersama-sama. Hal ini menjadi sesuatu yang menarik bagi kolonel Amerika yang “tersesat” masuk dan merasakan kehidupan bersama mereka. Dia begitu terkagum dengan kebersamaan yang mereka bangun dalam kehidupan bersama mereka. Tidak ada pihak yang berusaha untuk meneror sesama dan tidak ada yang berusaha untuk saling menguasai. Semunya berjalan sesuai dengan hukum alam yang berlaku. Bahkan dalam buku hariannya, sang kolonel tersebut mengatakan bahwa di tempat inilah dia bisa menghirup udaha. Ungkapan ini mau mengatakan bahwa ada satu nuansa baru yang membuatnya merasa tenang dan jauh dari hiruk-pikuk dunianya yaitu dunia Barat. Sang kolonel merasakan ada kebersamaan yang tidak ia rasakan selama ini. Tempat di mana ada persaudaraan, saling membantu dengan tulus. Semua ini menjadi ciri khas masyarakat yang masih tergolong dalam masyarakat kolektivif. Berbeda dengan masyarakat yang individual, yang mementingkan diri sendiri dan kurang atau bahkan tidak peduli dengan orang lain di sekitarnya.
Dimensi ketiga adalah Maskulinitas versus femininitas: tingkatan di mana kultur lebih menyukai peran maskulin tradisional seperti pencapaian, kekuatan, dan pengendalian versus kultur yang memandang pria dan wanita memiliki kedudukan yang sejajar. Maskulinitas ini memang menjadi ciri khas masyarakat Timur. Seorang perempuan tidak boleh menjadi pemimpin. Seorang perempuan hanya berperan sebagai pelayan bagi suaminya. Peran perempuan dalam film ini memang sangat penting bagi sang kolonel. Sang kolonel dirawat dengan penuh ketulusan walaupun dia telah membunuh suaminya. Inilah kekuatan terbesar yang dimiliki kaum perempuan ketika mereka harus memikul sendiri beban yang ada dalam hatinya. Kultur maskulinitas ini memandang kaum laki-laki sebagai yang nomor satu. Pencapaian tujuan hanya dapat dilakukan oleh kaum pria, kekuasaan hanya dimiliki oleh kaum pria dan pengendalan atas hidup juga menjadi tugas seorang pria. Peran wanita direduksi hanya sebatas urusan dapur. Dalam film ini, peran perempuan ditonjolkan dengan sedikit memberikan penekanan pada peran kaum perempuan. Dalam film ini, perempuan yang merawat sang kolonel menjadi wakil dari sekian banyak kaum perempuan yang disepelekan peran dan tugasnya. Tetapi bukan berarti mereka tidak mempunyai andil apa-apa.
Dimensi keempat adalah Penghindaran ketidakpastian: tingkat dimana individu dalam satu negara lebih memilih situasi yang terstruktur dibandingkan situasi tidak terstruktur. Salah satu dimensi dari Hofstede adalah mengenai bagaimana budaya nasional berkaitan dengan ketidakpastian dan ambiguitas, kemudian bagaimana mereka beradaptasi terhadap perubahan. Pada negara-negara yang mempunyai uncertainty avoidance yang besar, cenderung menjunjung tinggi konformitas dan keamanan, menghindari risiko dan mengandalkan peraturan formal dan juga ritual. Kepercayaan hanyalah diberikan kepada keluarga dan teman yang terdekat. Akan sulit bagi seorang negotiator dari luar untuk menjalin hubungan dan memperoleh kepercayaan dari mereka. Pada negara dengan uncertainty avoidance yang rendah, atau memiliki toleransi yang lebih tinggi untuk ketidakpastian, mereka cenderung lebih bisa menerima risiko, dapat memecahkan masalah, memiliki struktur organisasi yang flat, dan memilki toleransi terhadap ambiguitas. Bagi orang dari masyarakat luar, akan lebih mudah untuk menjalin hubungan dan memperoleh kepercayaan.
Dalam film ini kita juga melihat penghindaran kepastian yang berhubungan dengan cara menjunjung tinggi konformitas dan keamanan, mengandalkan peraturan formal dan ritual. Kepercayaan hanya diberikan kepada teman dekat dan keluarga. Orang Jepang dalam film ini sebenarnya belum siap menerima adanya perubahan dalam negara sendiri. Pemikiran mereka masih tetapi untuk mempertahankan tradisi dengan tidak terbuka terhadap perubahan. Tetapi menarik bahwa mereka bisa percaya terhaap seorang asing yang awalnya adalah musuh mereka sendiri. Inilah satu nilai penting yang menjadi faktor penentu keberhasilan mereka dalam menyampaikan pesan terakhir kepada kaisar. Dan justru kolonel asing (Nathan Algren) tersebutlah yang menjadi orang yang bisa membawa pesan dan pedan terakhir kepada kaisar. Ini membuktikan bahwa daya juang masyarakat timur dengan masyarakat barat agar berbeda.
Dimensi yang kelima adalah orientasi jangka panjang versus orientasi jangka pendek: berfokus pada tingkat ketaatan jangka panjang masyarakat terhadap nilai-nilai tradisional. Individu dalam kultur organisasi dengan orientasi jangka panjang melihat ke masa depan dan menghargai penghematan, ketekunan dan tradisi. Orientasi jangka panjang menjadi nyata dalam masyarakat Jepang yang sangat mempertahankan tradisi. Hal ini nampak dari ucapan Katsumoto kepada Nathan bahwa “Kuil ini dibangun oleh keluargaku seribu tahun yang lalu.” Warisan nenek moyang sangat dihargai dan dipertahankan walaupun harus mempertaruhkan nyawa. Keterikatan dengan warisan nenek moyang menjadi satu ciri yang mencolok dalam masyarakat Timur. Samurai juga adalah satu peninggalan dari leluhur yang perlu dilestarikan. Sistem perang yang menggunakan alat-alat tradisional masih terus dipertahankan. Semua ini tidak terlepas dari apa yang dipegang dan diyakini sebagai sebuah kekayaan yang tidak begitu saja dibuang begitu saja. 


Kamis, 16 Agustus 2012



MEMBANGUN SISTEM EKONOMI KERAKYATAN: SEBUAH USAHA MEMBERDAYAKAN RAKYAT
Oleh: Paul Lamawitak

I.     Meneropong Realitas
Tubuhnya sudah tua. Berpenampilan sederhana, dengan kacamata tebal menempel di mata. Ia sudah rentah. Dari garis-garis wajahnya kelihatan kalau beliau tidak muda lagi. Umurnya sudah lanjut, tapi semangat juangnya tidak pernah surut. Ia terus menekuni pekerjaannya, menjadi petani sukses. Keuletannya kemudian dipublikasikan dalam Kompas hari Rabu, 25 Juli 2012, hal: 16. Fabianus Pagan, itulah nama lengkap pria yang mendapat julukan “Raja Durian dari Maumere” ini. Putra kelahiran Kloangpopot 1931 ini, mempunyai usaha yang kiranya dapat menjadi contoh bagi kita.
Durian bisa tumbuh baik lebih dari 500 meter di atas permukaan laut. Pohon durian berusia puluhan tahun. Artinya ia bertahan lama, tidak sekali panen. Harga durian per buah Rp. 25.000, dan setiap pohon bisa menghasilkan 800 buah. Sekali panen, untuk satu pohon, bisa mencapai Rp. 20 juta. Bisa dibayangkan kalau beliau mempunyai 300 pohon durian yang produktif, tentu ia bisa memperoleh keuntungan yang berlipat ganda.
Di sisi lain, ada kecemasan yang kini telah menjadi kenyataan ketika para petani yang menanam fanili puluhan bahkan ratusan pohon kini menggigit jari karena harga fanili drastis anjlok. Dari Rp. 250.000/kg menjadi hanya Rp. 20.000/kg atau bahkan kurang dari itu. Kenaikan harga yang membooming dan anjloknya harga komoditas masyarakat ini menjadi persoalan yang tidak pernah terselesaikan hingga detik ini.
Dua fenomena ekonomi di atas, merupakan contoh kecil dari sekian banyak persoalan ekonomi yang sedang dihadapi oleh bangsa kita sekarang. Melonjakknya harga di pasar, tingkat pengangguran yang semakin tinggi, maraknya tindak kekerasan  menjadi fenomena yang terus menghiasi halaman-halaman koran lokal dan nasional kita.
II.  Menengok Sejarah
“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.” Demikian salah satu judul pidato bapak proklamator kita, Soekarno. Pidato ini menjadi pidato terakhir selama menjabat sebagai presiden Republik Indonesia. Ada banyak persoalan yang diangkat dalam pidato terakhirnya ini. Hemat saya, pidato ini menjadi satu pesan terakhir yang sarat makna. Perjuangan untuk merebut kemerdekaan menjadi saat yang sangat sulit bagi para pejuang kemerdekaan kita. Pesan ini terasa sangat bermanfaat bagi kita penerus eksistensi bangsa dan negara Indonesia. Soekarno sangat anti kapitalisme. Kapitalisme menjadi musuh besar yang terus diperangi hingga kapan pun. Sikap yang anti kapitalis inilah yang menjadi salah satu penyebab mengapa ia sangat dibenci oleh negara-negara kapitalis. Hingga akhir hayatnya, ia tetap pada pendiriannya untuk menolak kapitalisme.
Dalam pidato terakhir ini, salah satu bagian yang menjadi perhatian Soekarno adalah aspek ekonomi. Satu bentuk ekonomi yang sangat ditekankan oleh Soekarno adalah ekonomi mandiri. Secara objektif, keadaan masyarakat Indonesia dapat dibagi dalam beberapa periode. Yang pertama, agraris feodalisme. Bentuk perekonomian ini berlangsung selama periode penjajahan. Kita mempunyai lahan tetapi kita tidak bisa berbuat banyak karena pihak penjajah menjadi tuan atas apa yang kita miliki. Lahan kita digarap untuk kepentingan kaum penjajah. Kedua, kapitalis kolonialisme. Bentuk ini berlangsung selama awal kemerdekaan. Kaum kapitalis memegang peranan yang sangat penting dalam perekonomian negara kita. Mereka berdiri di belakang kaum kolonial atau penjajah untuk menguras habis apa yang kita miliki.  Ketiga, ekonomi mandiri. Ekonomi mandiri mulai digalakan Seokarno untuk membendung gerak kaum kapitalis untuk lebih berleluasa mengatur perekonomian dalam negeri kita. Ketergantungan terhadap pihak luar dalam bentuk utang akan menjadi satu beban yang sangat berat bagi kita dalam menjalankan roda perekonomian secara lebih baik. Keempat, kapitalis imperialis. Bentuk inilah yang dinamakan sebagai penjajahan modern. Kapitalisme kembali menguasai perekonomian kita dengan wajah baru (Darsono Prawironegoro, 2010: 12). Bentuk penjajahan baru sedang kita alami sekarang ini. Konsep tri sakti yang sangat brilian dari Soekarno (berdikari di bidang budaya, ekonomi dan politik) kini telah hilang. Kita sedang didera oleh utang yang terus melilit kehidupan perekonomian bangsa kita. Sampai ada ungkapan yang mengatakan kalau kita hidup dari utang. Ungkapan atau kecemasan ini mempunyai kebenaran karena setiap tahunnya pemerintah kita harus mengeluarkan uang untuk menutup utang yang kian menumpuk. Kita mendambakan satu perekonomian yang lebih baik dan lebih mandiri.
III.   Memilih Solusi Alternatif: Ekonomi Kerakyatan
Kompas Rabu, 25 Juli 2012 menurunkan sebuah berita yang menarik. Para pengrajin tahu dan tempe menjalani sebuah aksi penurunan produksi tahu dan tempe. Hal ini harus dilakukan karena mahalnya harga bahan baku. Bahan baku kedelai mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan, dari Rp. 5.500 naik hingga Rp. 8.000. Suatu fenomena yang agak ironis, karena kelangkaan bahan mentah kedelai justru terjadi di negeri agraris.
Menghadapi persoalan seperti di atas, kita lantas mendambakan sebuah perekonomian yang lebih mandiri, yang bisa melibatkan rakyat banyak untuk mengolah apa yang mereka miliki. Satu pilihan yang tepat untuk kita saat ini adalah membangun dan mengembangkan ekonomi kerakyatan. Secara sederhana, ekonomi kerakayatan adalah sebuah sistem ekonomi yang melibatkan rakyat banyak sebagai pelaku utama dalam bidang pertanian, peternakan, dan perikanan. Rakyat menjadi pusat kegiatan popular ini. Keterlibatan rakyat dalam sistem ekonomi ini sangat membantu mereka dalam usaha membangun sebuah kehidupan yang lebih baik. Ekonomi ini berpusat pada kekuatan ekonomi rakyat. Organisasi buru internasional (ILO) memberikan defenisi singkat mengenai ekonomi kerakyatan, yaitu ekonomi tradisional yang menjadi basis kehidupan masyarakat lokal untuk mempertahankan hidupnya. Ekonomi kerakyatan dikembangkan sesuai dengan kemampuan atau pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Mereka saling membantu dalam mengembangkan sumber daya alam yang dimilikinya tanpa mengeksploitasinya.
 Ekonomi kerakyatan sebenarnya telah dicanangkan oleh presiden pertama kita, Soekarno. Sistem ini menjadi salah satu kekuatan ekonomi kita karena melibatkan rakyat banyak. Ekonomi kerakyatan kemudian dikenal juga dengan nama ekonomi pancasila, terkhusus sila keempat; kerakyatan yang dipimpim oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.  Ekonomi kerakyatan ini kemudian dikembangkan oleh Prof. Dr. Mubyarto, menjadi ekonomi kerakyatan yang sangat terkenal itu. Kita memberdayakan apa yang kita miliki tanpa harus mengharapkan bantuan dari luar apa lagi bantuan dalam bentuk utang. Kita bisa belajar dari Cina yang menjadi satu negara yang anti produk luar negeri.
IV.   Adonara Mandiri?
Ada yang mengatakan kalau  Adonara berlimpah susu dan madu. Tanahnya yang subur dan sumber daya alam yang memadai menjadi satu kekuatan besar yang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat.
Tanah kembali menjadi unsur penting dalam kehidupan manusia. Dalam filsafat klasik, dari pergulatan para filsuf  tentang asal-usul dunia dan manusia, tanah menjadi satu unsur dari keempat unsur lain; air, udara dan api. Keempat unsur itu dinamakan arkhe. Sebagai salah satu arkhe, tanah menjadi sangat penting.
Tanah Adonara, tanah ihike selaka. Itulah sebuah ungkapan yang menggambarkan bahwa tanah Adonara benar-benar  tanah yang subur. Kesuburan tanah menjadi satu faktor penting bagi perkembangan peradaban sebuah daerah. Adonara mempunyai itu. Daerah sekitar sungai Nil menjadi sangat perkembang pada masa itu karena luapan delta sungai nil yang kemudian membawa lumpur subur bagi daerah sekitarnya. Tetapi saya tidak mengklaim bahwa Adonara adalah sempalan dari Mesir. Mesir adalah Mesir dan Adonara adalah tetap Adonara.
Dalam dunia ekonomi, ada empat faktor produksi yang memungkinkan sebuah produksi itu dapat berjalan yakni faktor sumber daya alam, sumber daya manusia, modal dan kewiraswastaan. Sumber daya alam menempati urutan pertama. Kita mempunyai berbagai tanaman produksi seperti kelapa, kakao, fanili, kemiri, cengkeh, pisang dan berbagai buah-buahan yang lain. Hal ini ini memang eviden. Tetapi kita perlu memberi kembali penegasan atas apa yang sedang terjadi di tanah Adonara tercinta. Bupati kita hampir saja menjadi korban dari sengketa tanah yang berkepanjangan yang tidak bisa diselesaikan. Dalam segala aspek kehidupan, tanah sudah eviden menjadi satu aspek yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Saya tidak bermaksud membongkar derita lama tetapi sejarah menorehkan berbagai peristiwa berdarah karena perebutan tanah.
Agar segala usaha yang kita lakukan dalam mempertahankan tanah sebagai hak milik kita tidak sia-sia, maka perlu sebuah manajemen yang baik untuk bisa menghasilkan sesuatu yang berguna bagi kita, dan bukan sebaliknya membawa malapetaka. Tanah  Adonara masih tergolong subur dan luas. Kita mempunyai berbagai tanaman produksi yang bisa kita berdayakan. Kita memberdayakan apa yang kita miliki, membangun sebuah budaya kerja keras untuk menghasilkan lebih dari hari-hari kemarin. Kita memberdayakan jagung, umbi-umbian, dan pisang sebagai hasil yang bisa menjadi kekhasan lokal kita. Kita bisa membangun ekonomi rakyat dengan mengembangkan pertanian yang lebih prorakyat seperti memberdayakan dan mengembangkan hasil yang kita miliki, dari tanah kita sendiri. Mengembangkan sistem marketing yang tidak hanya menguntungkan satu pihak tetapi bisa menguntungkan rakyat banyak. Kita memiliki lahan yang masih sangat luas. Kita bisa bercermin pada pengalaman keberhasilan bapak Fabianus Pagan di atas, dengan mengembangkan berbagai hasil seperti kakao, jagung, dan umbi-umbian dan pisang. Untuk itu, perlu ada satu komitmen dari para petani kita untuk bersatu membangun satu benteng yang kuat demi menahan laju globalisasi yang hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu saja, hanya menguntungkan mereka yang bermodal; kaum kapitalis. Kita rakyat kecil menjadi korban dari arus globalisasi itu. Kita jangan terjerumus dalam dogma yang kemudian bisa menelanjangi kita sendiri. Kita mempunyai tanah yang subur, yang bisa membawa kesejahteraan bagi kita semua kalau kita mau terbuka untuk bisa mengembangkan atau mengaturnya secara lebih baik. Kita saling memberdayakan dengan mengembangkan perekonomian yang lebih mengena dengan situasi kita, yaitu ekonomi rakyat. Rakyat menjadi pemeran utama dalam setiap tindakan atau aktivitas ekonomi. Rakyat yang berhak menentukan harga dari hasil kerjanya.
Untuk bisa mewujudkan ekonomi rakyat di atas, dibutuhkan satu komitmen yang kuat untuk mencintai apa yang dihasilkan dari bumi Adonara, apa yang menjadi kekayaan lokal kita. Ungkapan sarat makna dari satu selogan sama saudara kita dari GEMA-Surabaya ini dapat menjadi bahan refleski kita semua: “saudaraku,,,jangan pernah bertelanjang menyambut ria globalisasi dan modernisasi. Berbalutlah dalam kearifan budaya lokal, karena dengan begitu kita tidak mudah diperkosa


Rabu, 01 Agustus 2012

tentang sebuah kegelisahan,,

kegelisahan, kecemasan dan katakutan akan selalu ada dalam diri setiap manusia. kegelisahan yang dialami selalu berhubungan dengan sesuatu yang ada di luat diri manusia. manusia merasakan ada kesemasan dan kegelisahan karena ia menjalin hubungan dengan orang lain di luar dirinya. kegelisahan juga bisa menguasai seseorang jika ia memasuki sebuah dunia yang baru. dunia baru bisa bermacam-macam, dunia kerja baru, dunia pendidikan baru, atau dunia tempat tinggal baru. berhadapan dengan dunia baru ini, manusia lalu berjuang untuk bisa menyesuaikan diri. dalam proses inilah, kecemasan itu sering muncul dan menghantui setiap perjalanan hidup manusia...apakah kegelisahan itu terus menghantui manusia???

Jumat, 29 Juni 2012

MANUSIA SEBAGAI ANIMAL RATIONALE

Filsuf Boethius, mempunyai ungkapan yang menarik tentang manusia, persona est naturae rationalis individual subtantia (persona adalah substansi individual yang berkodrat rasionalis). Manusia sebagai persona, dalam setiap upaya perwujudan diri, umumnya mengacu pada tiga hal yaitu: distingsi, limitasi dan mutasi. Ketiga hal ini melekat bukan hanya dalamdiri manusia tetapi juga pada setiap makhluk ciptaan yang lain.
Setiap ciptaan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Hal ini ada karena adanya keterbatasan potensi yang dimiliki oleh setiap ciptaan yang bermuara pada aktus yang dibuat demi perwujudan diri.
Setiap ciptaan juga terlimitasi, terbatas. Dalam hubungan dengan ini, ada istilah esse (keberadaan) dan essensi (hakikat). Esse dari setiap kita dibatasi oleh essensi kita. Essensi manusia adalah animal rationale. Karenaitu, essensi kita sebagai makhluk yang berpikir itu menjadi berartihanya sejauh kita berada. Kedua hal ini (essedanessensi), sangatlah penting dan melekat erat dalam diri manusia. Keberadaan kita selalu diikuti dengan aktus berpikir.
Setiap ciptaan juga termutasi.Setiap ciptaan dalam keberadaannya selalu menampilkan keberadaan yang statis. Ada unsur dinamis yang ada dalam setiap ciptaan. Karena itu kita sering mendengar ungkapan bahwa manusia adalah makhluk dinamis. Hal ini ada karena adanya gerakan potensi menuju  kesempurnaannya.
Ketigahal di atas menjadi titik awal, titik pacu bagi kami untuk berusaha mewujudkannya dalam bulletin ini. Kami sebagai anak-anak yang dilahirkan dari Rahim ibu Horowura, merasa perlu untuk membangun sebuah dasar yang kuat bagi perkembangan kami dan lewotanah selanjutnya.
Kami menyadari bahwa sebagai persona (manusia), dan terkhususnya sebagai mahasiswa, kami berbeda dengan anak jalanan. Selain itu, lewat bulletin yang sederhana ini, kami juga hendak menuangkan ide dan pikiran kami, sebagai bentuk perwujudan essensi kami. Semoga pikiran sederhana kami yang tertuang dalam bulletin ini dan pada edisi-edisi berikutnya, sedikitnya berguna bagi kita untuk berpikir secara lebih horizon kritis demi perkembangan Horowurak ke depan.
Dan pada akhirnya, kami juga mau maju dan berkembang. Sebagai kaum muda yang masih labil, kami membutuhkan banyak dukungan yang kiranya berguna bagi kami, dalam aktus pengembangan diri. Sebagai manusia yang dinamis, kami hendak berjuang kearah yang lebih memungkinkan kami berkembang menjadi manusia yang utuh, yang bisa memberikan sesuatu yang berguna bagi lewotanah, yang telah melahirkan kami,,,dan terus berjalan bersama kami hingga seperti adanya kami sekarang ini. Dan akhirnya,,untuk teman-teman muda horowura,,jangan berhenti pada titik ini karena ini adalah sebuah permulaan yang menuntut langkah selanjutnya. Akan ada langkah selanjutnya, jika kita mau berjalan bersama.